web1 - suharyadi smago (4)

KOKURIKULER TERINTEGRASI DENGAN KEGIATAN SEKOLAH, SMAN 1 GODEAN HADIRKAN TEMA“MENGUATKAN IMAN, MENGABDI UNTUK LINGKUNGAN”

Sebagai bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada pengembangan karakter
dan kompetensi peserta didik, SMAN 1 Godean melaksanakan kegiatan kokurikuler semester 2 Tahun
Ajaran 2025/2026 dengan menyesuaikan konteks dan kebutuhan sekolah. Pendekatan ini dilakukan
melalui pengembangan konteks lokal, sehingga kegiatan kokurikuler tidak berdiri sendiri, melainkan
terintegrasi dengan program dan budaya sekolah yang telah berjalan.
Perencanaan kegiatan dilakukan secara kolaboratif oleh tim kurikulum, guru mata pelajaran kokurikuler,
serta penanggung jawab kegiatan sekolah yang terdiri atas guru dan siswa. Kolaborasi tersebut
menghasilkan rancangan kegiatan dan modul ajar yang relevan dengan kebutuhan peserta didik
sekaligus mendukung pencapaian profil lulusan yang diharapkan.
Pada periode 8–15 Maret 2026, SMAN 1 Godean menyelenggarakan kegiatan kokurikuler bertema
“Menguatkan Iman, Mengabdi untuk Lingkungan”. Tema ini dipilih untuk memberikan pengalaman
belajar yang tidak hanya memperkuat pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai keagamaan, tetapi
juga menumbuhkan kepedulian sosial serta tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Kegiatan ini mengusung dimensi Profil Lulusan Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa serta Kewargaan. Melalui berbagai aktivitas yang dilaksanakan di sekolah, rumah, panti asuhan, dan
di lingkungan sekitar, peserta didik diajak untuk menghayati nilai-nilai keimanan dalam kehidupan
sehari-hari sekaligus mengimplementasikannya melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi
masyarakat dan lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan kokurikuler ini menjadi wujud kemitraan pembelajaran yang
melibatkan berbagai pihak. Kolaborasi antara guru Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila menjadi
fondasi utama dalam penyusunan dan pelaksanaan kegiatan. Selain itu, orang tua, tokoh masyarakat,
serta pengelola tempat ibadah seperti masjid, musala, gereja, dan panti asuhan turut berperan sebagai
mitra pembelajaran yang memberikan pengalaman kontekstual bagi peserta didik. Keterlibatan berbagai
unsur masyarakat ini memperkaya proses belajar sekaligus memperkuat hubungan antara sekolah,
keluarga, dan lingkungan sosial.
Melalui rangkaian kegiatan yang dilaksanakan, peserta didik memperoleh kesempatan untuk belajar
secara autentik, mengembangkan karakter, serta mengasah kemampuan reflektif. Pada akhir kegiatan,
setiap peserta didik menyusun refleksi sebagai bentuk evaluasi pengalaman belajar yang telah
diperoleh. Selain itu, siswa juga mengisi Lembar Kegiatan Murid yang dikumpulkan secara daring melalui
Learning Management System (LMS) sekolah. (Suharyadi)